Prabowo Tanpa Gibran, Siapa Penggantinya

Choirul Aminudin Choirul Aminudin Sabtu, 07 Februari 2026 • 14:00:00 WIB
Prabowo Tanpa Gibran, Siapa Penggantinya

PARTAI Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) mulai tancap gas untuk pemilihan presiden 2029. Prabowo Subianto didapuk menjadi presiden dua periode. Pengusul tidak menyebut nama Gibran Rakabuming Raka sebagai pendampingnya.

Pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-18, Ketua Dewan Kehormatan Partai Gerindra, Ahmad Muzani, menyatakan bahwa partainya bertekad mengusung Ketua Umum Prabowo Subianto melanjutkan jabatannya dua periode.

“Presiden Prabowo dua periode,” ucap Muzani di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat 6 Februari 2026.

Bagi saya, pernyataan Muzani menarik dan wajar. Meskipun kontestasi pemilihan presiden masih tiga tahun lagi, namun mesin politik Gerindra mulai dia panaskan.

Dan, apa yang disampaikan Muzani di depan awak media tersebut, sepertinya mengamini keinginan tiga partai Senayan: Golkar, Partai Amanah Nasional (PAN), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ketiga Ketua Umum partai tersebut, sebelumnya, meminta Prabowo melanjutkan kepemimpinannya hingga dua periode. Namun, anehnya, mereka tidak menyebutkan nama pendamping Prabowo pada 2029.  

Pertanyaannya, siapa pengganti Gibran Rakabuming Raka jika Prabowo melaju kembali pada pemilihan presiden 2029 akan datang?

Banyak isu menyebutkan: Bahlil Lahadila, Zulkifli Hasan, dan Muhaimin Iskandar menjadi calon alternatif menyertai Prabowo.

Bahkan, santer terdengar, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin disodorkan menjadi wakil presiden untuk Prabowo. Meskipun belum terkonfirmasi, tetapi bukan mustahil di antara nama tersebut diusung partai Senayan.

Selain mereka, ada pula Agus Harimurti Yudhoyono yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Pertanyaaan berikutnya, bukankah jauh sebelumnya, Joko Widodo menginginkan putra sulungnya, Gibran, tetap berduet dengan Prabowo untuk dua periode? Apakah mulai ada retak rambut antara Prabowo dengan Jokowi?  

Pada pertemuan dengan relawan di Solo, Januari 2026, Jokowi menginstruksikan kepada Bara JP dan seluruh pendukungnya mendorong pasangan Prabowo-Gibran dua periode.

“Alasannya, demi keberlanjutan pemerintahan.”

Instruksi ini sekaligus untuk menepis pernyataan Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, yang pernah menyatakan bahwa bukan tidak mungkin Gibran akan maju sebagai calon presiden pada pemilihan 2029.  

Sementara itu, bertolak dari pernyataan Muzani yang juga disokong oleh partai di Senayan, kuat dugaan, shaf Prabowo-Jokowi tidak rapat, mulai renggang.

“Ada angin yang masuk.”

Prabowo, setidaknya melalui Muzani, memberikan sinyal kuat bahwa Gibran sudah tidak diperlukan lagi untuk meraih kemenangan pada pemilihan presiden 2029.

Bagi Gerindra, calon wakil presiden yang mendampingi Prabowo telah tersedia dengan kecakapan yang dibuktikan di Kabinet Merah Putih: Bahlil, Zulhas, Imin, Sjafrie, dan AHY.

Bagaimana dengan Gibran? Bisa jadi posisinya mulai limbung. Atau, sebaliknya kian matang. Dia akan melakukan konsolidasi secara senyap dengan kekuatan yang dibina oleh PSI beserta Jokowi, dan Ahmad Ali.

Pada Rapat Kerja Nasional PSI di Makassar, akhir Januari 2026, Jokowi bersemangat bahwa dia akan berjuang untuk kemenangan Partai Gajah.

“Saya masih kuat turun ke lapangan, mengunjungi provinsi, kabupaten kota. Saya akan berjuang mati-matian untuk kemenangan PSI,” ucap Jokowi berapi-api.

Apakah pidato Jokowi di Makassar itu sinyal kuat bentuk perlawanan terhadap Prabowo.

Mari kita saksikan panggung politik ini hingga tiga tahun ke depan, siapa nama penggusur Gibran yang dikantongi Gerindra.


Tanjung Priok, 7 Februari 2026

Bagikan

Columns Lainnya