Silaturahmi dalam Spektrum Komunikasi dan Psikologi

Rusdy Setiawan Putra Rusdy Setiawan Putra Minggu, 26 April 2026 • 09:29:00 WIB
Silaturahmi dalam Spektrum Komunikasi dan Psikologi

SECARA sederhana, Silaturahmi bisa bermakna ber-Komunikasi, merekatkan hubungan seseorang atau sekolompok manusia dalam komunitas tertentu. Tujuannya adalah social relationship yang di ujungnya adalah hubungan antar sesama manusia. Menjaga dan memelihara harmoni silaturahmi yang mengedepankan akhlaqul karimah.

Dalam cara pandang positif, komunikasi dalam spektrum silaturahmi diorientasikan berdampak positif bagi diskursus ilmu sosial. Artinya, ada manfaat kemaslahatan bagi manusia yang melakukan hubungan komunikasi dalam tatanan konektivitas silaturahmi. Meskipun dalam dimensi religiusitas, silaturahmi adalah hubungan antar manusia yang berlandaskan pada etika dan nilai-nilai agama bagi kehidupan secara luas.

Pada sisi lain, silaturahmi dalam konteks psikologi, berperan dalam personalisasi seseorang dengan seorang lainnya. Ada hal keseimbangan hubungan yang konsisten.

Dalam hal ini, saya mengedepankan teori disonansi kognitif yang diperkenalkan oleh Leon Festinger pada tahun 1957 dan berkembang pesat sebagai sebuah pendekatan dalam memahami area umum dalam komunikasi dan pengaruh social (Festinger, 1957).

Ada beberapa teori dalam menjelaskan konsistensi atau keseimbangan, seperti teori ketidakseimbangan kognitif (cognitive imbalance) oleh Heider (1946), teori Asimetri (asymmetry) Newcomb (1953), dan teori ketidakselarasan (incongruence) oleh Osgood dan Tannembaum (1952). Namun Shaw dan Contanzo (1985) mengatakan bahwa teori disonansi kognitif berbeda dalam dua hal penting:

Pertama, tujuannya untuk memahami hubungan tingkah laku (behavior) dan kognitif (cognitive) secara umum, tidak hanya merupakan sebuah teori dari tingkah laku sosial.

Kedua, pengaruhnya dalam penelitian psikologi sosial telah menjadi suatu hal yang sangat besar dibandingkan teori konsistensi lainnya.

Teori disonansi kognitif menjadi salah satu penjelasan yang paling luas yang diterima terhadap perubahan tingkah laku dan banyak perilaku sosial lainnya. Teori ini telah digeneralisir pada lebih dari seribu penelitian dan memiliki kemungkinan menjadi bagian yang terintegrasi dari teori psikologi sosial.

Festinger (1957) menjelaskan bahwa disonansi kognitif adalah diskrepansi atau kesenjangan yang terjadi antara dua elemen kognitif yang tidak konsisten, menciptakan ketidaknyamanan psikologis.

Hal ini didukung oleh Vaughan dan Hogg (2005) yang menyatakan bahwa disonansi kognitif adalah suatu kondisi tidak nyaman dari tekanan psikologis ketika seseorang memiliki dua atau lebih kognisi (sejumlah informasi) yang tidak konsisten atau tidak sesuai satu sama lain. 

Festinger (1957) menyatakan bahwa kognitif menunjuk pada setiap bentuk pengetahuan, opini, keyakinan, atau perasaan mengenai diri seseorang atau lingkungan seseorang. Elemen-elemen kognitif ini berhubungan dengan hal-hal nyata atau pengalaman sehari-hari di 
lingkungan dan hal-hal yang terdapat dalam dunia psikologis seseorang.

Karena itu, silaturahmi yang merupakan komunikasi antar manusia, erat kaitannya dengan psikologi yang bisa saling mempengaruhi. Artinya, ketika ada persoalan sosial diantara hubungan komunikasi antar manusia atau seseorang dengan seseorang lainnya, maka hal itu bisa menjadi penghambat komunikasi itu berjalan dengan baik.

Maka teori-teori sosial yang melekat pada basis komunikasi dalam silaturahmi, akan bergantung pada psikologi pelaku komunikasi itu sendiri.

Agar tidak ada penghalang komunikasi dalam spektrum silaturahmi, maka hambatannya itu harus diselesaikan terlebih dahulu. Dengan demikian, komunikasi dalam bersilaturahmi menjadi nyaman dan tanpa gangguan psikologis.

-RSP/SINKOS-

Bagikan

Analysis Lainnya