Melawan Iran, Amerika Serikat Kelimpungan Anggaran

Choirul Aminudin Choirul Aminudin Sabtu, 21 Maret 2026 • 15:00:00 WIB
Melawan Iran, Amerika Serikat Kelimpungan Anggaran

Peperangan di Timur Tengah melibatkan Iran versus pasukan gabungan Amerika Serikat-Israel, sejak akhir Februari 2026, mulai dirasakan pahit oleh Presiden Donald Trump.

Betapa tidak. Meskipun belum seumur jagung, getirnya peperangan telah merayap hingga ke ubun-ubun Trump.

Iran yang semula diperkirakan oleh Amerika Serikat dan Israel dapat ditaklukan dalam waktu empat hari, namun faktanya tidak sesuai dengan perkiraan. Baku senjata justru kian menggelora.

Trump yang mengidap megalomania, percaya diri berlebihan lantaran merasa memiliki kekuatan dan ambisi besar, sangat yakin bahwa Iran bisa tunduk dalam sekejap.

Untuk itu, Trump didukung Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan negara-negara sekutu di Timur Tengah, mengerahkan kekuatan besar militernya termasuk tiga kapal induk demi melumat Iran. Faktanya tidak sesuai ambisinya.

Selain pupus harapan, Trump, saat ini, dihadapkan pada masalah anggaran peperangan yang terus meroket.

Sejak amuk senjatanya menggempur Iran, Amerika Serikat kehilangan duit US$11,3 miliar atau setara dengan Rp 190 triliun hanya dalam sepekan.

Angka sebesar itu diperkirakan bakal makin melangit, sebab peperangan masih sulit diperkirakan kapan berakhir: sebulan, dua bulan, bisa jadi tahunan sebagaimana konflik Rusia-Ukraina.

“Iran siap berperang hingga waktu tak terbatas,” ucap salah seorang petinggi militer Iran sebagaimana dikutip wartawan.

Jika peperangan benar-benar berlangsung terus, katakan, tahunan, maka bujet yang ditanggung Amerika Serikat makin menggila.

Pekan ini, Trump berharap kepada Kongres agar menyetujui anggaran perang yang diajukan sebesar US$200 miliar, kurang lebih setara dengan Rp 3.400 triliun.

Namun, saya meragukan Kongres mengamini permintaan Trump. Sebab, sejak peperangan itu berkecamuk, rakyat Amerika Serikat terbelah. Hasil jajak pendapat yang dilaporkan kantor berita Associated Press memperlihatkan bahwa sebagian besar menolak.

Alasan mereka, Iran bukan ancaman bagi rakyat Amerika Serikat. Sebaliknya, peperangan justru menjadi momok kenaikan harga minyak dan bahan bakar lainnya. Ketakutan mereka, kini, menjadi kenyataan.

Saat ini, menurut sejumlah laporan media internasional, harga bahan bakar minyak di Amerika Serikat melambung 31 persen dari bandrol normal. Kenaikan itu dipicu oleh ditutupnya Selat Hormuz dan terbakarnya sejumlah kilang minyak di Semenanjung Arab.
  
Kondisi tersebut, saya duga, menjadi pertimbangan Kongres, apakah menyetuji atau tidak permohonan Trump menambah anggaran perang. Partai Demokrat menentang proposal tersebut. Bahkan, sebagian Republiken bersikap setali tiga uang.

Nah, jika Kongres ketok palu menolak anggaran perang yang diajukan Trump, saya perkirakan rambut presiden eksentrik ini bakal kian menguning.

Teriakan Trump kepada NATO agar bersedia mengirimkan armada perangnya ke Selat Hormuz makin nyaring. Sayang, harapan Trump seperti menjaring angin. Nyaris seluruh anggota pakta pertahanan Atlantik Utara tersebut menolak permohonannya.

Episode berikutnya, mari kita lihat, ke arah mana langkah Trump yang mulai gontai. Apakah masih ingin melanjutkan peperangan, atau memilih remuk oleh bom pintar Iran. Trump tampak kelimpungan! (ca)

Bagikan

Columns Lainnya