KETEGANGAN di Timur Tengah menapak jalan tegang menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Angkatan Laut Iran.
Negeri para Mullah itu sengaja menutup seluruh akses keluar masuk kapal laut, termasuk tanker pengangkut bahan bakar minyak yang melintasi Selat Hormuz.
Akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran, harga minyak dunia meriang. Dan, ketegangan di kawasan Teluk semakin membuncah.
Sebelum Iran menyatakan perang melawan serangan sepihak Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari 2026, harga minyak dunia masih landai yakni US$80 per barel.
Namun, sepekan kemudian, harga tersebut terkerek menjadi US$120 per barel.
Apakah harga stuck sampai di situ? Tidak. Ternyata harga semakin melonjak, bahkan sulit dikendalikan.
Data yang saya peroleh menyebutkan, bandrol minyak justru membuat kulit melepuh. Menurut situs OilPrice.com sebagaimana ditulis Kurt Cobb, “The Global Campaign to Control Oil Prices”, harga minyak dunia, saat ini, mendidih: US$200 per barel.
Dampak lonjakan harga ini membuat Eropa dan sejumlah negara di Asia yang mengandalkan minyak dari Timur Tengah kelimpungan, jika tak mau disebut megap-megap.
Bagaimana dengan Amerika Serikat, apakah terdampak dengan gonjang ganjing harga minyak dunia? Situasi tersebut sebelas dua belas dirasakan oleh Uncle Sam sebagaimana dialami Eropa dan Asia.
Selat Hormuz, bagi mereka, bukan hanya sebagai urat nadi pelayaran minyak ke Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, namun juga menjadi jalur utama pengapalan barang dan jasa dari kawasan Teluk.
Kondisi ini, membuat Amerika Serikat yang merasa menjadi polisi dunia, dalam posisi tidak beruntung.
Oleh karenanya, untuk mengatasi persoalan tersebut, Presiden Donald Trump meminta sekutunya di Eropa dan Asia mengirimkan kapal perang.
Trump mengatakan kepada wartawan sebelum meninggalkan Florida menuju Washington dengan Air Force One, Eropa dan Asia harus mengirimkan kapal perang untuk mengawal tanker yang berlayar di sana.
”Harus ada pengiriman kapal perang ke Selat Hormuz demi melindungi kepentingan kita,” ucap Trump di depan juru warta seperti dilaporkan situs Al Arabiya edisi Inggris.
Desakan Trump ternyata bertepuk sebelah tangan. Jepang, Australia, dan Prancis secara tegas menolak permintaan lelaki berambut jagung tersebut.
Menurut saya, penolakan ketiga negara tersebut mengerahkan armada perang ke Teluk sangat masuk akal, kendati minyak Timur Tengah menjadi salah satu andalan perekonomian mereka.
Dasar pemikiran saya begini, pertama, jika mereka benar-benar mengirimkan mesin pembunuhnya ke Teluk, maka eskalasi perang dipastikan kian meluas.
Peperangan yang semula hanya Iran berhadapan dengan Amerika Serikat-Israel, namun permusuhan bakal melibatkan mereka: Eropa, Australia, dan Asia.
Saya yakin mereka tidak mau terseret dalam pusaran perang yang sesungguhnya ujungnya tidak jelas, kecuali demi hegemoni Amerika Serikat di Timur Tengah.
“Persoalan yang semula hanya masalah ekonomi yang disulut oleh harga minyak, bakal meluas menjadi problem keamanan dunia.” Saya rasa itulah yang menjadi pertimbangan Eropa.
Kedua, Iran yang memiliki kedekatan dengan Rusia, Cina, dan Korea Utara belum termasuk Yaman serta Hamas di Lebanon tidak tinggal diam. Negeri itu, diam-diam ataupun secara terbuka, bakal berteriak minta dukungan.
Rusia, sebagaiman dikatakan Presiden Vladimir Putin kepada awak media, akan memberikan perlindungan kepada Iran. Demikian juga Korea Utara, Kim Jong Un.
Bagaimana dengan Cina? Negeri Tirai Bambu tersebut telah membuktikan sebagai kawan setia Iran. Sejak sebelum diserbu pasukan gabungan Amerika Serikat-Israel, Cina memberikan data intelijen terkait keberadaan kapal perang yang berlayar menuju kawasan Teluk.
Kian runyam bukan?
Saran saya kepada Trump, berhentilah berperang. Anda harus mengakui bahwa mesin perang yang Anda kirimkan ke Teluk justru membuat dunia makin tegang, Menyerahlah! (ca)