SEPERTI biasa ayahku selalu mengingatkan bahwa Kamis malam nanti, untuk hadir dalam majelis Kanjeng Adipati Wirjosoewito. Majelis ini adalah majelis keluarga besar anak, cucu dan seluruh keturunannya.
Eyang Kakung Kanjeng Adipati Wirjosoewito adalah sesepuh keluarga kami. Dulu Eyang pernah menjadi Adipati di Astana Doto Pitono Anenggih. Eyang menjadi seorang kepercayaan Sang Raja Parastantra Narendra Anenggih.
Selepas sholat Isya berjamaah, kami duduk melingkar di Pendopo Astana, di sisi kanan rumah kami. Sudah hadir 39 anggota majelis yang semuanya keturunan Kanjeng Adipati Wirjosoewito. Ayahku membuka majelis. Malam itu, ayahku berbicara tentang salah satu tokoh dalam pewayangan bernama: Sengkuni.
Terbetik dalam pikiran, Sengkuni moderen tergambarkan pada sosok Netanyahu dan sosok Donald Trump. Mereka menjadi satu kesatuan dalam tema besar Zionis di muka bumi.
Sengkuni adalah tokoh dalam dunia perwayangan. Sengkuni diperbincangkan satu negeri sebagai tokoh antagonis. Wataknya dikenal sangat jahat dan hampir semua orang membencinya dan tidak suka kepadanya.
Sengkuni adalah simbol kejahatan, kebengisan, licik, kikir, senang memfitnah, menghasut, mencelakakan orang lain dan sangat kejam tanpa perikemanusiaan. Harus diingat, jangan coba-coba mendekati Sengkuni selepas dia berhasil merampok cuan pengusaha kaya, terlebih pengusaha tambang atau pejabat tinggi negara atau siapa pun, yang penting ada fulus yang bisa dirampoknya. Kita akan dituding memanfaatkannya. Sengkuni adalah seorang yang sangat biadab.
Dalam keseharian, Sengkuni lebih senang menyendiri dan menyiapkan agenda aksi untuk tipu menipu, mencuri yang bukan haknya, mengelabui, berdusta dan kejahatan sosial lainnya. Sengkuni suka memukul dari belakang, menggunting dalam lipatan, membuat skenario fitnah dan mengambil keuntungan pribadi untuk kehidupan keluarganya. Sekali lagi, Sengkuni sangat senang dan bergembira menipu pejabat, pengusaha atau mereka yang banyak fulusnya. Siasat Sengkuni dikenal sebagai "Buruk Rupa Cermin Dibelah".
Sengkuni digambarkan memiliki badan kurus, bermuka pucat dan sorot mata elang membidik mangsanya. Sengkuni oleh teman dan musuhnya dikenal sebagai tokoh yang sangat jahat dan buruk.
Saking buruk dan busuknya watak Sengkuni, ada seorang pejabat intelijen terkemuka menyebutkan bahwa tidak ada sisi baik yang bisa ditemukan di dalam diri Sengkuni. Dengan kata lain, tokoh ini adalah sosok antagonis yang tidak ada duanya.
Di kalangan masyarakat Jawa nama Sengkuni dipakai untuk menjuluki orang yang paling tidak disukai di satu negeri karena wataknya yang buruk. Sengkuni sering digunakan untuk memberi julukan kepada orang yang berperilaku buruk, licik, senang menghasut, hingga suka mengadu domba dalam upaya memperkaya diri sendiri dan makan kenyang sendiri.
Di ujung cerita dalam Majelis Kanjeng Adipati Wirjosoewito, cerita tentang Sengkuni tidak akan menjadi teladan. Cerita Sengkuni pun kami buang ke tong sampah. Habis perkara.
-RSP/SINKOS-