Habib Umar: Tahun 2026 Jadi Ujian Kepemimpinan Prabowo, Arah Kebijakan Dinilai Belum Jelas

Penulis: Redaksi  •  Jumat, 01 Mei 2026 | 10:50:00 WIB

JAKARTA — Pernyataan keras datang dari Habib Umar Alhamid yang secara terbuka mendesak Presiden Prabowo Subianto agar tidak ragu mengambil posisi tegas dalam konflik global yang melibatkan dunia Islam.

“Indonesia ini negara Muslim terbesar. Beliau harus jadi perwakilannya. Jadi, enggak usah takut-takut, enggak usah ragu,” tegasnya.

Menurutnya, sikap pasif justru berpotensi membuat Indonesia kehilangan momentum strategis sebagai pemimpin dunia Islam.

“Yang diserang ini negara mayoritas Muslim. Dampaknya ke umat Islam, termasuk Indonesia. Masa kita diam saja?” ujarnya.

Ia juga menyinggung kebijakan luar negeri yang dinilai tidak menunjukkan keberpihakan yang jelas, khususnya terkait isu Palestina dan Iran.

“Kalau itu awalnya untuk Palestina, mestinya Presiden berani menyatakan sikap. Jangan sampai kesempatan itu hilang,” katanya.

Habib Umar menilai, keberanian mengambil posisi bukan hanya soal politik luar negeri, tetapi juga soal kepercayaan rakyat.

“Kalau ingin dicintai mayoritas umat Islam, ya harus menangkap aspirasi mereka. Jangan ragu,” pungkasnya.

Habib Umar Alhamid menilai tahun 2026 akan menjadi momentum krusial bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut tahun tersebut sebagai “tahun ujian” yang menentukan arah masa depan kepemimpinan nasional.

“Ujiannya ini di tahun 2026. Jika berhasil, insyaallah ke depan lolos. Kalau tidak, ya sampai di sini saja,” ujar Habib Umar.

Ia mengingatkan bahwa kegagalan menghadapi tantangan global dan domestik bisa berdampak serius terhadap kondisi bangsa.

“Bukan untuk menjatuhkan, tapi Indonesia bisa terpuruk. Ongkosnya mahal,” katanya.

Habib Umar juga menyoroti belum jelasnya arah kebijakan pemerintah, yang berdampak pada kepercayaan publik dan dunia usaha.

“Arah kompas itu harus jelas. Enggak perlu banyak bicara, tapi jelaskan ke rakyat kita mau ke mana. Kalau jelas, pengusaha yakin—‘ini pemimpin hebat, tidak merugikan kita’,” ujarnya.

Namun, ia menilai kondisi saat ini belum mencerminkan hal tersebut.

“Faktanya saat ini masih belum memberikan harapan-harapan itu. Kalau sudah baik, ekonomi tidak akan goyang,” katanya.

Selain itu, ia mengkritik lemahnya peran tim pendukung presiden, terutama dalam memberikan masukan strategis.

“Seolah-olah Presiden berjalan sendiri tanpa penasihat ahli. Padahal beliau butuh orang-orang spesial, bukan sekadar yang bisa, tapi yang ahli,” tegasnya.

Habib Umar juga menekankan pentingnya kecepatan informasi dan pengambilan keputusan di tengah situasi global yang dinamis.

“Tidak boleh terlambat. Harus ada yang bisa membaca ke depan—kalau begini akan terjadi apa,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, ia berharap pemerintah segera melakukan evaluasi internal, termasuk dalam komposisi kabinet.

“Jangan digemukkan tapi tidak berfungsi. Lebih baik dirampingkan tapi efektif,” katanya.

Ia pun optimistis Presiden Prabowo mampu menghadapi tantangan tersebut, asalkan didukung oleh tim yang kuat dan arah kebijakan yang jelas.

“Saya yakin beliau tangguh. Tinggal bagaimana menghadapi ujian ini,” pungkasnya.

-BP/SINKOS-

Reporter: Redaksi
Back to top