HAMPIR setiap malam Laknato mengumpulkan beberapa temannya. Mereka bertemu di kafe sederhana. Mereka memesan kopi khusus yang khas dari ujung barat Nusantara. Ada pula makanan kecil seperti pisang goreng dan singkong goreng renyah.
Saat Laknato mulai berbicara, teman-temannya melepaskan fokus pandang ke arahnya. Malam itu, Laknato bicara tentang kesemrawutan politik negara pasca Raja Jawa bertahta. Dulu, di paruh awal kekuasaan, Laknato mendukung Sang Raja. Tapi ketika proposalnya ditolak, Laknato kemudian balik badan dan berlari meninggalkan Raja Jawa yang bergelimang janji, kepalsuan, dusta, kerakusan dan kemunafikan.
Sesungguhnya, sifat-sifat buruk yang melekat pada Raja Jawa itu, sama persis dengan sifat-sifat Laknato. Boleh dikatakan 99 persen sifat Raja Jawa dan Laknato tak ada bedanya. Bahkan ketika Laknato bicara tentang Maling, Pencuri, Pencopet dan Perampok, Raja Jawa dan Laknato adalah orang yang sama. Keduanya adalah sama-sama Maling atau Perampok sesuatu yang bukan haknya. Dan, di kalangan teman dan sahabatnya, Laknato dikenal sebagai tokoh Munafik, Pendusta dan Kikir.
Ketika hasil ngibul dan berdusta Laknato meraih cuan besar, maka dia memberikan permen kepada teman-temannya. Tidak lebih dan jauh dari kesan seorang dermawan yang mengagungkan Allah SWT.
Laknato persis dan mirip sekali dengan seorang tokoh munafikun yang ada di Jaman Rasulullah SAW. Di jaman Rasulullah, ada tokoh munafik yang sangat beken di seantero negeri. Namanya: Abdullah bin Ubay. Secara terang-terangan, Ubay sangat membenci Rasulullah, karena menganggapnya sebagai penghalang dirinya untuk menjadi penguasa Madinah. Sejak Rasulullah dan para sahabat hijrah ke kota Madinah, terjadi perubahan besar dalam tatanan politik di Madinah.
Awalnya, Abdullah bin Ubay direncanakan atau menargetkan dirinya akan diangkat sebagai tokoh dan penguasa Madinah. Namun, setelah Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah, pengaruh Abdullah menjadi pudar. Hingga akhirnya Nabi Besar Sayyidina Muhammad SAW yang menjadi pemimpin Kota Madinah. Hal itulah yang membuat Abdullah bin Ubay menaruh kebencian dan kedengkian terhadap Nabi Muhammad.
Ketika bersama Rasulullah, Abdullah mengaku beriman dan beribadah layaknya umat Islam, namun ketika dia sudah berpisah dengan Rasul, dia kembali kepada agamanya yang lama. Ubay menjelek-jelekkan umat Islam dan Rasulullah. Selain itu Abdullah bin Ubay juga kerap dan seringkali mengadu domba dan menjadi provokator dalam berbagai kerusuhan.
Setelah "berdakwah" dan monolog panjang lebar, Laknato berhenti sejenak. Ia kemudian menyeruput kopi hitamnya dan menyedot rokoknya dalam-dalam. Asap rokoknya disemburkan ke ruangan kafe itu. Teman-temannya juga menikmati rokok kretek dan rokok filternya dengan penuh kenikmatan.
Sepanjang Laknato bicara, tak ada satu pun temannya bersuara. Teman-teman Laknato adalah pendengar yang setia dan baik, apalagi kalau Laknato sudah mulai berbicara. Di mata teman-temannya, Laknato adalah hukum dan peraturan tidak tertulis. Artinya, kalau Laknato berbicara, maka tidak boleh seorang pun bersuara. Teman-temannya layaknya penonton pertunjukkan monolog di gedung teater.
Bagi Laknato, teman-temannya adalah kambing congek, seperti yang diinginkannya. Kompensasinya, tagihan pembayaran makan, minum dan rokok dibayar oleh Laknato, yang menamakan dirinya pemimpin dengan pengikut terbatas dan kaum pengangguran yang membunuh waktunya sepanjang pagi, siang, sore dan malam hari sampai dinihari.
Oleh Rusdy Setiawan Putra
(Penyair dan Jurnalis)