Pesta Babi dan Lahirnya Politik Perlawanan Generasi Digital..."

Penulis: Redaksi  •  Kamis, 21 Mei 2026 | 14:00:00 WIB

JAKARTA – Kemunculan film Pesta Babi memunculkan pembacaan baru mengenai arah gerakan politik generasi muda Indonesia. Film itu dinilai bukan hanya produk budaya, tetapi juga simbol perubahan cara anak muda menyampaikan protes sosial.

Dalam Podcast Sinkos, para pembicara menilai generasi saat ini memiliki karakter berbeda dibanding generasi sebelumnya. Jika masa lalu kritik dilakukan melalui lagu atau aksi demonstrasi, hari ini film, media sosial, dan ruang digital menjadi instrumen politik baru.

Para narasumber melihat adanya percepatan kesadaran politik di kalangan anak muda. Bahkan pelajar tingkat sekolah disebut mulai menunjukkan solidaritas terhadap isu publik dan ketidakadilan sosial.

Menurut mereka, setiap zaman selalu melahirkan generasi baru dengan karakter perlawanan masing-masing.

Mereka mencontohkan bagaimana generasi 1928 melahirkan nasionalisme, generasi 1966 mengguncang pemerintahan lama, hingga gelombang reformasi 1998 yang dimotori anak muda.

Kini muncul pertanyaan baru: apakah generasi digital juga sedang menuju fase politiknya sendiri?

Film Pesta Babi dipandang menjadi salah satu ekspresi keresahan tersebut. Papua dipilih bukan sekadar lokasi cerita, tetapi dianggap mewakili simbol ketimpangan dan hubungan pusat-daerah yang belum selesai.

Di sisi lain, istilah "politik babi" dalam diskusi berkembang menjadi metafora tentang kerakusan dan praktik kekuasaan yang kehilangan batas.

Para pembicara menilai kondisi ekonomi yang sedang menghadapi tekanan, gejolak sosial, hingga meningkatnya kritik publik berpotensi memperkuat keresahan generasi muda.

Namun demikian, mereka menekankan bahwa energi perubahan tersebut perlu diarahkan melalui ruang komunikasi yang sehat.

Presiden dinilai perlu membuka dialog lebih luas dengan kelompok muda agar kreativitas, kritik, dan idealisme generasi baru tidak berkembang menjadi polarisasi politik yang tajam.

Diskusi tersebut akhirnya menegaskan satu hal: kritik dari generasi muda seharusnya tidak dibaca sebagai ancaman, melainkan sinyal bahwa demokrasi masih bekerja.

Sebab dalam sejarah Indonesia, perubahan besar sering lahir dari generasi yang merasa waktunya tiba untuk berbicara.

Dan hari ini, menurut mereka, bahasa baru itu mungkin datang melalui layar film.

Reporter: Redaksi
Back to top