SinKos – Iran menyatakan siap melakukan perundingan dengan Amerika Serikat terkait dengan ketegangan yang kian memuncak di Timur Tengah.
“Syaratnya, tidak boleh ada bayang-bayang tekanan, adil, dan setara.”
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, kepada wartawan ketika melakukan kunjungan ke Turki, Jumat 30 Januari 2026.
Bagi Iran, Araghchi menjelaskan, tidak ada masalah melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat. Tetapi, perundingan tidak boleh disertai dengan bayang-bayangan ancaman.
“Saya juga perlu mengatakan, Iran memiliki kemampuan bertahan yang kuat dan misil yang hebat. Dalam perundingan -jika itu dilakukan- kekuatan misil tidak boleh disentuh,” ucap Araghchi.
Dalam beberapa pekan ini, terjadi ketegangan antara Teheran dengan Washington. Presiden Donald Trump menuding Iran memberangus demokrasi dan membunuh tak kurang dari dua ribu demonstran.
Selain itu, Iran dianggap oleh Amerika Serikat telah mengembangkan senjata pemusnah massal dan program nuklir.
Meskipun tuduhan tersebut bekali-kali dibantah oleh Iran, namun Washington tetap geleng kepala. Ketidakpercayaan tersebut disusul dengan pengiriman armada perang yang dipimpin oleh kapal induk USS Abrahm Lincoln.
Kini, tak kurang dari 10 ribu armada tempur Amerika Serikat berada di kawasan Teluk. Bahkan, berbagai sumber menyebutkan, seluruh pasukan di pangkalan militer di Timur Tengah termasuk di Qatar dan Bahrain siap dikerahkan menggempur Iran.
CA | BERBAGAI SUMBER