Melawan Amerika Serikat, Iran Tinggal Pencet Tombol

Penulis: Choirul Aminudin  •  Sabtu, 31 Januari 2026 | 11:20:00 WIB

Teheran – IRAN tinggal memencet tombol untuk mengaktifkan seluruh kekuatan senjatanya  berperang melawan Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam segera melakukan tindakan militer  terhadap negaranya.

“Angkatan bersenjata kami telah siap menghadapi agresi Amerika Serikat demi melindungi tanah tumpah darah kami,” ucap Araghchi, sebagaimana dilansir _Al Jazeera_, Rabu 28 Januari 2026.

Aragachi menjelaskan kepada wartawan pada Rabu petang waktu setempat, “Jari-jari kami sudah di atas meja, tinggal pencet tombol.”

Ketegangan Iran dan Amerika Serikat memuncak menyusul kehadiran kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, dan armada perang lainnya di perairan teluk.

Sejumlah pengamat mengatakan, kondisi ini dapat memicu konflik terbuka antardua negara: Iran melawan Amerika Serikat. Namun, bukan mustahil Israel dan sekutu Amerika di Timur Tengah terlibat dalam peperangan tersebut.

Sebelumnya, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman.

Menurut laporan kantor berita Arab Saudi, _Saudi Press Agency_, kedua pemimpin negara tersebut berbicara secara hangat lewat hubungan kawat internasional. Presiden Pezeshkian menekankan agar Kerajaan tidak terlibat dalam perang Iran melawan Amerika Serikat.

Dalam pembicaraan tersebut, _SPA_ menulis, Arab Saudi menyambut baik permintaan Presiden Pezeshkian. “Pangeran Salman tidak akan mengizinkan Amerika Serikat menggunakan wilayah udara, darat, dan laut untuk menyerang Iran.”

Sejak Trump berkuasa, Iran dianggap sebagai ancaman dunia. Menurut tudingannya, negeri Mullah tersebut memproduksi senjata nuklir.

“Iran harus bersedia berunding membicarakan senjata pemusnah massal secara fair,” tulis Trump melalui akun _Truth Social_.

Bagi Iran,  Pezeshkian menegaskan, tidak ada kata mundur atas ancaman Amerika Serikat. “Perang 12 hari sangat bernilai bagi kami,” jelasnya kepada juru warta.

Pada Juni 2025 lalu, Iran berperang selama 12 hari melawan Israel didukung Amerika Serikat. Konflik bersenjata tersebut diakhiri secara sepihak setelah Iran menghujani lebih dari 1000 misil ke wilayah Israel.

*CA | BERBAGAI SUMBER*

Reporter: Choirul Aminudin
Back to top