OMC Dinilai Penting untuk Antisipasi Hujan Ekstrem di Jakarta

Penulis: Zulfikar Marikar  •  Sabtu, 31 Januari 2026 | 12:00:00 WIB

JAKARTA — Intensitas hujan ekstrem yang meningkat membuat Jakarta semakin rentan terhadap banjir. Pada Januari 2026, curah hujan harian di ibu kota tercatat mencapai sekitar 189 milimeter pada 22–23 Januari 2026, jauh melampaui kapasitas normal sistem drainase kota.

Bahkan Hujan ekstrem juga terjadi di sejumlah wilayah. Di Muara Angke tercatat 267 milimeter, Kemayoran 412,5 milimeter, Cengkareng 347,2 milimeter, dan Tanjung Priok mencapai 529,5 milimeter, yang disebut sebagai salah satu curah hujan tertinggi sejak 1991.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta TNI Angkatan Udara melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi ini berlangsung pada 16–22 Januari 2026 dengan pusat komando di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Pemerhati Jakarta Zulfikar Marikar menilai penerapan OMC di Jakarta dan sekitarnya relevan sebagai langkah mitigasi darurat menghadapi hujan ekstrem. Meski biaya operasionalnya relatif besar, OMC dinilai mampu menurunkan intensitas hujan rata-rata hingga sekitar 50 persen sehingga dapat mengurangi risiko banjir.

“OMC bukan solusi tunggal, tetapi penting sebagai langkah antisipatif ketika potensi hujan ekstrem terdeteksi,” tidak terbayang kondisi jakarta kalau tanpa OMC. ujar Zulfikar.

Ia menjelaskan, teknologi modifikasi cuaca bukan hal baru di Indonesia. Sejak akhir 1970-an, teknologi yang sebelumnya dikenal sebagai hujan buatan telah digunakan untuk mendukung sektor pertanian, pengisian waduk PLTA dan irigasi, serta pengendalian banjir, termasuk di Jakarta pada 2013, 2014, dan 2020.

Pemanfaatan OMC juga pernah dilakukan untuk pengamanan berbagai agenda nasional dan internasional, seperti Asian Games 2018, MotoGP Mandalika, KTT ASEAN Labuan Bajo 2023, KTT G20 Bali 2022, hingga Forum Air Dunia (WWF) Bali 2024.

Secara global, teknologi serupa juga diterapkan di berbagai negara. Uni Emirat Arab, Iran, negara bagian Amerika Serikat, India dalam mengatasi pulosi, hingga China dan Rusia mengembangkan dan mengoperasikan teknologi modifikasi cuaca untuk kepentingan mitigasi kekeringan, pengelolaan sumber daya air, hingga pengendalian cuaca ekstrem.

Zulfikar menekankan bahwa OMC merupakan produk sains yang relevan di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim global. Namun, penerapannya harus dilakukan secara terukur dan selektif, khususnya untuk mempercepat turunnya hujan di wilayah perairan laut guna mengurangi beban sungai dan drainase Jakarta.

Selain OMC, ia menilai penanganan banjir Jakarta memerlukan langkah jangka panjang, antara lain penambahan ruang terbuka hijau, perluasan daerah resapan air, optimalisasi sistem drainase perkotaan, penguatan infrastruktur pengendali banjir pesisir seperti Giant Sea Wall, kolaborasi pengelolaan wilayah hulu–hilir, serta peningkatan kesiapsiagaan dan partisipasi masyarakat.

Sementara itu, BMKG menegaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca yang dilakukan di Indonesia merupakan upaya mitigasi bencana yang terukur dan berbasis sains. OMC ditujukan untuk perlindungan masyarakat dengan mengelola potensi hujan ekstrem, bukan untuk menciptakan cuaca tidak stabil.

Reporter: Zulfikar Marikar
Back to top